Minggu, 06 September 2015

Pendidikan dan Aset daerah

Pendidikan dan Aset Daerah
oleh ; Gun Gun Gunawan

Permasalahan pendidikan bukan hanya masalah lembaga atau instansi yang mengurusi dalam hal pendidikan, akan tetapi masalah ini merupakan permasalahan semua elemen yang ada didalamnya, baik guru, orang tua, masyarakat bahkan pemerintah daerah sebagai pemangku kebijakan kemana masyarakat itu akan dibawa. Permasalahan pendidikan harus dilihat dari berbagai sudut pandang serta kajian multidisiplin hal ini tentunya akan lebih mengena terhadap permasalahan tersebut, apalagi menyangkut masa depan peserta didik yang akan menjadi generasi penerus bangsa ini. Sekolah tidak bisa dijadikan kambing hitam dalam dunia pendidikan, karena sekolah bukan faktor penentu yang menjadikan anak menjadi Arsitek, Dokter, Guru, Perawat, Presiden bahkan seorang Penjahatpun. Seharusnya persepsi masyarakat akan keberhasilan peserta didik harus dibenahi kembali, bahwa bukan sekolah atau guru yang menjadikan mereka menjadi seseorang yang berhasil. Akan tetapi lingkunganlah yang lebih dominan dalam mempengaruhi seseorang. Arti lingkungan disini yaitu sekolah, keluarga dan masyarakatnya serta keinginan yang ada pada diri sendiri. Perlu sekiranya beberapa sekolah menerapkan tujuan sesuai dengan visi dan misi yang direncanakan dalam sekolah masing-masing, hal ini merupakan penguat dalam lingkungan belajar peserta didik juga lingkungan kerja para guru yang ada didalamnya. Terkadang sekolah hanya mementingkan tujuan-tujuan tertentu saja tanpa melihat aspek serta dampak yang ditimbulkannya, tidak sedikit sekolah yang hanya mengedepankan kuantitas siswa dan jauh mengedepankan kualitas siswa misalnya penerimanaan peserta didik yang melebihi aturan dari Dinas pendidikan, hal ini tujuan sekolah mungkin hanya untuk menarik dana BOS atau SPP dari siswanya agar dana komite menjadi lebih besar, akibatnya jumlah rombel yang overload (melebihi kapasitas) sehingga menjadikan tidak efektif dalam belajar dikelas karena siswa yang terlalu banyak melebihi 25 orang. Kondisi inilah yang mengakibatkan guru menjadi asal ngajar saja karena pusing dengan banyaknya siswa yang sulit untuk diatur. Oleh sebab itu perlu adanya pembenahan serta komitmen sekolah dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan visi dan misi agar jelas jelas kemana arah dan tujuan sekolah tersebut. Selain itu keberhasilan siswa tentunya tergantung dari lingkungan keluarga, karena keluarga salah satu faktor yang berperan lebih dominan dalam menentukan keberhasilan siswa. Jika dibandingkan lamanya waktu keberadaan peserta didik antara di sekolah dengan di rumah tentu lebih banyak di lingkungan keluarga, keberadaan siswa disekolah hanya enam jam saja mulai dari pukul 07.00 – 13.30 bagi sebagian sekolah, sedangkan sisanya siswa berada di rumah oleh sebab itu pendidikan keluarga harus lebih optimal. Keluarga juga harus berperan dalam mementukan kemana anak itu harus mengenyam pendidikan yang baik bagi perkembangan intelektual serta sosialnya karena jika hanya sebatas sekolah saja tentunya perkembangan anak tidak akan menjadi lebih baik masalahnya tidak semua sekolah memiliki lingkungan serta kedisiplinan yang bagus. namun jangan terjebak dalam pemahaman tentang sekolah favorit kebanyakan orang tua belum memahami arti serta tujuan SMA (sekolah Menengah Atas) dan SMK (sekolah Menengah Kejuruan) padahal hal ini merupakan penentu arah masa depan anaknya sendiri, kadang beberapa siswa SMA jika ditanyakan akan kemana anda setelah lulus sekolah jawaban mereka adalah bekerja, atau sebaliknya ada siswa SMK setelah lulus malah tujuannya untuk kuliah. Hal inilah yang perlu diberikan pengetahuan terhadap siswa atau orang tuanya yang belum memahami arti serta tujuan tersebut. Lingkungan yang lain yaitu masyarakat; masyarakat sangat berpengaruh terhadap pola kebiasaan perkembangan anak sebagai contoh dibeberapa tempat yang pernah saya jumpai ada sebagian masyakarat yang memiliki budaya gengsi berlebihan terutama dalam hal materi sebagai contohnya yaitu keluarga lebih mementingkan anaknya untuk memiliki kendaraan bermotor daripada untuk membelikan kebutuhan sekolah seperti buku, alat tulis, laptop atau yang lainnya. Sehingga anak tersebut merasa bahwa pendidikan tidaklah penting. Hal ini tentunya perlu adanya perubahan budaya pada masyarakat tersebut agar menjadikan bahwa pendidikan merupakan tabungan di masa yang akan datang.
Pendidikan, Pariwisata dan potensi daerah
Setiap daerah tentunya memiliki potensi yang berbeda, baik kekayaan hayati maupun non hayati. Kekayaan tersebut adalakanya tidak dimanfaatkan secara baik oleh pemerintah maupun masyarakatnya sehingga kekayaan tersebut menjadi sia-sia, namun tidak sedikit beberapa daerah yang minim kekayaan alamnya tetapi dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kesejahteraan masyarakat yang ada di dalamnya. Berbicara soal kekayaan alam, Provinsi Banten merupakan salah satu provinsi yang kaya akan sumber daya alamnya, mulai dari sumber daya barang tambang logam dan non logam, sumber daya laut, sumber daya hutan, sumber daya pertanian dll. Potensi ini tentunya menjadi sebuah tantangan atau menjadi ancaman bagi masyarakat dan pemerintah, dikatakan tantangan karena seberapa serius pemerintah dalam pengelolaan untuk mensejahterakan masyarakat atau seberapa besar masyarakat bisa memanfaatkan sumber daya alam tersebut bagi kelangsungan hidupnya. Dikatakan menjadi ancaman jika pengelolaannya tidak baik bahkan dikelola oleh pihak asing sehingga merugikan masyarakat.
Berkaitan dengan itu aset daerah Kabupaten Pandeglang sangatlah melimpah, bukan hanya kekayaan alamnya saja namun jumlah penduduk serta luas wilayah terbesar ke dua di Provinsi Banten setelah Kabupaten Lebak, yaitu kurang lebih 2.746,90 km2 menurut BPS (2013). Dengan potensi tersebut seharusnya masyarakat bisa lebih makmur dan sejahtera bukan banyaknya pengangguran atau giji buruk yang melanda di beberapa daerah tersebut. Permasalahan ini tentunya bukan sebuah omong kosong belaka karena data lapangan bisa membuktikannya. Namun permasalahan ini sepertinya hal yang biasa saja bagi pemerintah padahal mereka pun menyadarinya. Menurut saya mencari solusi tentunya banyak sekali jika semua element masyarakat serta pemerintah serius untuk menindaklanjutinya salah satunya yaitu penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan serta pengelolaan sumber daya secara optimal oleh pihak-pihak yang berwenang. Pengutaan SDM memalaui pendidikan misalnya yaitu ; Pemerintah membuka sekolah-sekolah kejuruan yang berbasis pariwisata hal ini tentunya sesuai dengan potensi pariwisata yang ada di Kabupaten Pandeglang sangat banyak, jika kita telusuri daerah ini memiliki beberapa tempat wisata diantaranya yaitu untuk wisata bahari, seperti Pantai Carita, Pantai Bama, Pantai Ciputih, Pantai Tanjung Lesung, pantai Karoeng, Pulau Liwungan, Pulau Peucang, Pulau Panaitan dan masih banyak lagi, sedangkan untuk wana wisata kabupaten Pandeglang memiliki banyak tempat-tempat yang sangat menarik dan layak dikunjungi bagi para petualang yang senang dengan ketinggian misalnya : Gunung Pulosari, Gn Karang, Gn Aseupan, Gn Raksa serta Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dijadikan sebagai World Heritage oleh UNESCO, tidak hanya itu Kota kabupaten ini memiliki tempat tempat serta situs bersejarah yang bisa dijadikan sebagai wisata rohani atau ruwatan sejarah bagi guru-guru : seperti Kramat Syech Asnawi Caringin, Syeh Cikadueun. Dengan membukanya sekolah pariwisata tentunya akan ada lulusan-lulusan yang berkompeten dalam hal management wisata atau bahkan menciptakan desninasi wisata baru, karena sebanyak apapun sumberdaya alam yang dimiliki jika tidak ada sumber daya manusia yang kompeten mengelolanya mustahil akan maju atau berkembang. Oleh sebab itu paradigma faham posibilisme harus kuat dalam masyarakat yaitu manusia bisa mengolah alam bukan sebaliknya manusia hanya bisa tergantung pada alam saja atau manusia hanya bisa berdiam diri ketika alam sudah tidak memenuhi kebutuhannya lagi.
Selain itu dalam pengelolaan pariwisata perlu adanya pembenahan dalam management wisata oleh pemerintah. Berbicara masalah pengelolaan tentu bukan hal yang mudah, apalagi pengelolaan (managemen) pariwisata merupakan industri yang masih cukup baru dibanding kegiatan industri lainnya hal ini memerlukan pembahasan yang komperhensif dan detail, sehingga perlu adanya kajian antar disiplin ilmu serta dukungan dari berbagai komponen masyarakat serta stakeholder sebagai pemangku kebijakan agar maksud serta tujuan dalam pengembangan akan terlaksana dengan baik. Istilah managemen secara umum yaitu planning (perencanaan), Directing (mengarahkan), Organizing (pengorganisasian) dan Controling (pengawasan). Namun dalam pengelolaan pariwisata perlu adanya penjabaran dan mengacu pada hal yang lebih holistik yaitu dengan prinsip-prinsip yang menekankan pada nilai-nilai kelestarian lingkungan alam, komunitas serta nilai sosial budaya yang memungkinkan wisatawan bisa menikmati kegiatan wisatanya serta bermanfaat bagi masyarakat lokal. Dengan adanya management wisata yang baik tentunya akan muncul perekonomian masyarakat secara sendirinya, ekonomi kreatif akan berkembang serta memunculkan sumber pendapatan baru. Seperti yang dikutip dari Liu (1994:6) menyatakan bahwa pengelolaan pariwisata dapat berperan strategis untuk fungsi-fungsi berikut ; perlindungan terhadap sumber daya alam dan lingkungan; keberlanjutan ekonomi; peningkatan integritas budaya; serta nilai pendidikan dan pembelajaran. Apalagi dengan diresmikannya KEK (kawasan ekonomi khusus) yang berada di Tanjung Lesung oleh presiden RI Jokowi pada Februari 2015 yang lalu akan memberikan amunisi ekonomi bagi masyarakat, Penyerapan tenaga kerja akan semakin besar sehingga para lulusan sekolah yang dididik selama bertahun-tahun tidak akan menjadi sia-sia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar