Pemikiran Ki Hajar Dewantara
oleh :Ginanjar Hambali
Hari lahir Ki Hajar ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional, berdasarkan surat keputusan Presiden No. 316 tanggal 16 desember 1959, sebagai penghargaan dan penghormatan atas jasa beliau di lapangan pendidikan nasional. Selain dikenal sebagai pendiri Perguruan Taman Siswa, Ki Hajar juga menuliskan gagasan-gagasan pendidikan dan kebudayaan yang tersebar di berbagai surat kabar, majalah dan brosur-brosur serta penerbitan lain-lain, Universitas Gajah Mada, mengakui perjuangan Ki Hajar, dalam lapangan tulisan, dengan memberikan gelar doktor honoris causa.
Pada mulanya Ki Hajar, adalah pelajar Sekolah Dokter Jawa, yang merintis kebangkitan nasional pada tahun 1908, Ki Hajar melihat keterbelakangan dan keterpurukan bangsa Indonesia disebabkan karena kurang cerdasnya Bangsa oleh ketiadaan pendidikan yang memadai. Ketika Ki Hajar dibuang ke Belanda pada tahun 1913, dia berupaya memperdalam masalah pendidikan dengan mempelajari pendidikan di Barat. Ketika kembali ke Indonesia pada tahun 1920, Ki Hajar mulai mempraktikan teori pendidikan yang diperolehnya disesuaikan dengan kebutuhan bangsa Indonesia yaitu antara lain sebaga alat untuk menumbuhkan rasa kebangsaan. Mendasarkan pendidikan nasional pada kebudayaan Indonesia, yang menjadi alat untuk menantang kekuasaan Belanda. (H.A.R Tilaar; 2011).
Mendidik anak menurut Ki Hajar, itulah mendidik rakyat. Keadaan dalam hidup dan penghidupan kita pada jaman sekarang itu, buahnnya pendidikan yang kita terima dari orangtua pada waktu kita masih kanak-kanak. Sebaliknya anak-anak yang pada waktu ini kita didik, kelak akan menjadi warga Negara kita. Pengaruh pengajaran itu, umumnya memerdekakan manusia atas hidup lahir, sedang merdekanya hidup batin itu terdapat dalam pendidikan. Manusia yang merdeka yaitu manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. (Karya Ki Hajar Dewantara, hal 3).
Kita lihat posisi bangsa Indonesia saat ini, banyak bergantung kekuatan bangsa lain, ambil contoh perkara tambang seberapa banyak yang dikuasai bangsa sendiri? Selain itu, produk-produk yang beredar di pasaran, baik pasar modern maupun pasar lokal, produk asing banyak beredar dari mulai pakaian, buah-buahan, sampai barang-barang rumah tangga.
Selain produk asing, ditengah arus globalisasi atau perubahan yang salah satunya ditandai dengan kemajuan teknologi informasi, benturan dan bercampurnya kebudayaan asing dengan kebudayaan lokal terus terjadi. Peran pendidikan bagaimana menguatkan budaya dan nilai-nilai lokal sebagai jati diri bangsa, bisa menahan dan mengambil manfaat dari benturan-benturan budaya itu sendiri. Jangan sampai benturan kebudayaan itu, melemahkan budaya sendiri. Jangan sampai nilai-nilai lokal semakin tergerus.
Seperti dinyatakan Ki Hajar Dewantara, mengenai percampurannya dua jenis keadaban itu tiadalah kita kuasa buat menghalanginya. Dan kita memang harus mengakui, bahwa percampuran itu ada juga gunanya. Tetapi didalam semua perkara, kita sendiri yang harus bisa menjaga dan mengatur, supaya percampuran itu bisa terjadi dengan jalan kodrati, yaitu pertama keadaban kita sendiri sebagai dasar harus dikuatkan, sedang apa yang perlu kita ambil dari lain pihak, itu harus kita nasionalisasi, artinya dilaras lebih dulu dengan keadaan kita sendiri. (hal.12)
Modernisasi sesuatu yang tidak bisa dihindarkan, tetapi sejumlah pakar seperti dikutip oleh H.A.R Tilaar (2007) menyarankan modernisasi reflektif? Artinya, berbagai perubahan yang terjadi di dunia dewasa ini tidak seluruhnya mempunyai arti yang positif. Modernisasi refelektif menuntut generasi muda dapat mengadakan pilihan yang tepat dalam mengembangkan pribadinya dan mengembangkan lingkungannya serta kebudayaannya sendiri tanpa menutup pintu masuknya kebudayaan baru yang lebih memperkaya kebudayaan tradisional.
Pendidikan diharapkan bisa meningkatkan daya pikir generasi muda untuk lebih kritis terhadap budaya asing yang masuk. Jati diri bangsa Indonesia yang penuh dengan ramah tamah, gotong royong, toleransi, dan sikap-sikap yang baik harus terus dikembangkan, jangan sampai sikap-sikap individualis, mementingkan diri sendiri, mengabaikan norma-norma yang berlaku seperti rencana pesta bikini selepas lulus yang berkembang. Pergaulan semakin bebas, pesta narkoba tidak terkendali.
Kemajuan teknologi informasi juga diharapkan bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan potensi diri, mengembangkan potensi lokal ekonomi masyarakat. Pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan-lulusan siap pakai, namun juga siap untuk mengembangkan dan menciptakan invoasi-inovasi baru dalam hal ini bolehlah kita sebut sebagai enterpreneur. Sebab bila pendidikan hanya sekedar menghasilkan pegawai-pegawai rendahan, kebermafaatan sekolah pun pun tidak berguna banyak untuk kepentingan dan kemajuan masyarakat.
Ki Hajar Dewantara, menulis, kemudian kita mendapat sekolah bumiputera kelas satu, yang kelak menjadi H.I.S banyak orang merasa senang, karena ada pengharapan bagi anak-anaknya mencapai kepandaian yang bisa dijadikan alat untuk mencapai derajat penghidupan yang sama dengan penghidupan bangsa lain yang hidup di tanah kita. Akan tetapi pengharapan itu boleh dikatakan sia-sia belaka. Sebab, untuk mencari pekerjaan anak-anak keluaran H.I.S masih sangat mentah: Kebanyakan hanya cakap buat menjabat jurutulis atau jurutulis pembantu, dengan gaji yang sama dengan gaji jongos atau koki. Lagi pula yang didik di H.I.S itu banyak yang kehilangan tabiat kerakyatannya dan merasa lebih tinggi derajatnya daripada saudara-saudaranya yang tak pandai berbahasa Belanda.
Sejumlah peningkatan-peningkatan di dalam dunia pendidikan terus berlangsung, sekarang ini gedung-gedung sekolah telah menjangkau ke kampung-kampung, sejumlah fasilitas pendidikan pun terus dibangun oleh pemerintah. Berjuta-juta anak kita mengenyam pendidikan, dan sekolah-sekolah itu tiap tahun meluluskan peserta didiknya. Setelah memiliki izajah, lulusan-lulusan sekolah itu, baik menengah maupun perguruan tinggi, biasanya berlomba-lomba mencari pekerjaan, mudah-mudahan bisa diterima menjadi pegawai negeri atau swasta pun tidak mengapa, yang penting gajinya besar. Bukankan, sistem pendidikan model seperti itu yang dikritik Ki Hajar pada jaman pemerintah kolonial, sekolah dibuat untuk memasok pegawai pemerintah dan swasta seperti perkebunan. Sementara itu, saat ini jumlah pengangguran terdidik terus saja meningkat, apakah ini berarti mereka belum merdeka, terutama belum bisa berdiri sendiri.
Soal Guru
Jumlah guru sekarang ini bertambah-tambah. Tapi, mengapa kualitas pendidikan di Indonesia masih memperihatinkan? Satu masalah guru adalah soal distribusi yang tidak merata, sementara di pelosok sekolah-sekolah kekurangan guru semetara di sekolah-sekolah yang berada di perkotaan guru-guru menumpuk, apakah ini bukan pertanda, bahwa rasa nasionalisme guru-guru kita lemah? Selain persoalan itu, tampaknya pemerintah juga harus memperhatikan pemerataan ini dengan bijaksana, jangan sampai guru ke pelosok terkesan dibuang.
Guru menurut Ki Hajar, jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja, akan tetapi harus juga mendidik si murid dapat mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan umum. Jadi, sudah jelas pemikiran Ki Hajar, bahwa pendidikan bukan hanya membuat anak untuk menunggu mendapatkan pengetahuan, tapi juga mendorong anak untuk aktif dalam belajar.
Lebih-lebih sekarang ditengah banjirnya informasi, guru bisa saja ketinggalan pengetahuan oleh muridnya, tapi peran guru tidak bisa tergantikan sebab guru juga berfungsi sebagai tuntunan, bagaimana mengarahkan peserta didik, agar tidak tersesat di rimba raya informasi. Penguatan budaya lokal, nilai-nilai luhur bangsa perlu diberikan pada anak-anak sehingga, tidak gagap ketika mendapati informasi budaya-budaya global.
Pada akhirnya, guru tidak meminta suatu hak, akan tetapi menyerahkan diri untuk berhamba kepada Sang Anak. Menghamba pada Sang Anak, bukan kepentingan-kepentingan tertentu, apalagi kepentingan tertentu itu sampai menghancurkan perkembagan dan bakat anak. Ketika ada potensi mengorbankan anak didik, guru semestinya bersikap, melawan.
Pendidikan yang memadai seperti yang dicita-citakan oleh Ki Hajar sepertinya masih harus terus diperjuangkan. Selamat Hari Pendidikan Nasional, semoga nilai-nilai yang terkandung dalam pemikiran Ki Hajar terus dibaca dan diamalkan oleh, terutama kaum guru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar