Minggu, 06 September 2015

Multatuli di Ciseel



Menghadirkan Multatuli di Ciseel
Penulis: Ginanjar Hambali

Pada mulanya, barangkali hanya sebuah keisengan belaka, mendirikan taman baca Multatuli untuk mengisi waktu luang disela aktivitas sehari-hari sebagai guru. Taman baca itu, kemudian berkembang, tumbuh dan dikenal, sebagai tempat bagi anak-anak; membaca, menulis, main drama, menonton film, belajar Bahasa Inggris, dan banyak kegiatan lain. Seperti saya kutip dari laman situs taman baca Mutatuli, berharap para anggota taman baca Multatuli yang semuanya masih murid SD, SMP, dan SMA, bisa mencintai kegiatan belajar serta gemar membaca maupun menulis. Juga bisa dan mampu menyerap semangat kejujuran seperti yang digambarkan Multatuli dalam novel Max Havelaar.
Taman baca itu terletak di Kampung Ciseel, Desa Sobang, Kecamatan Lebak, sebuah tempat yang bersembunyi di Bawah Kaki Gunung Halimun Salak, Warga kampung, sering memangil Guru yang mendirikan taman baca Multatuli itu dengan sebutan Pak Guru Ubai, di laman jejaring sosial miliknya orang-orang sering memanggilnya dengan sebutan Kang Ubai, nama lengkapnya Ubaidilah Muchtar.
Saya mengenalnya, waktu dia menjadi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, angkatan tahun 1999, selain kuliah, hari-harinya di kampus diisi oleh kegiatan diskusi, sesekali demonstrasi, beberapa kali membaca puisi. Lulus dari UPI Bandung tahun 2004, menikah dengan perempuan yang dulu dikenalnya di Kampus, kemudian mereka memutuskan tinggal di Depok, sampai kemudian pada tahun 2009, Ubai diangkat menjadi guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Lebak, tepatnya 1 Februari.
Ubai, ditempatkan di SMPN 3 Sobang. Pada waktu datang ke lokasi tempat dia ditugaskan, mengaku sempat ragu. Letak SMPN 3 Sobang berada di pelosok, jarak antara tempat tinggal dengan sekolah sekitar 120 kilometer. Jalannya berliku, dan belum beraspal. Jadi tidak bisa pulang pergi tiap hari. Beruntung, Istrinya yang bernama Linda Nurlinda, bukan hanya rajin mengirim pesan pendek melalui sms, menelponnya sekedar untuk mengingatkan makan walaupun dengan bantuan sinyal handphone yang pas-pasan, juga terus mendukung dan menyemangatinya untuk tetap semangat menjalani hari-hari sebagai guru. Tentu juga sesekali berkunjung menengok suaminya yang menjalankan tugas di pelosok.
Enam bulan pertama, Ubai, tinggal di Sekolah, tidur di ruang guru. Pada Bulan Agustus 2009, Ubai ikut mengontrak rumah di Kampung Ciseel, Desa Sobang, Kecamatan Sobang, Lebak. “Saya ikut, empat teman yang terlebih dahulu mengontrak rumah Pak Sarip,” kata Ubai. Empat temannya, itu sama-sama mengajar di SMP 3 Sobang.
Sarip adalah warga Ciseel, yang juga menjabat sebagai Ketua RT di kampung tersebut, sehingga sering dipanggil Pak RT Sarip. Seperti kampung-kampung yang ada di pelosok Banten, selepas sekolah; anak-anak sebagian membantu orangtuanya, mencari kayu bakar, mengembalakan kambing dan ada juga yang mengembalakan kerbau, bermain di sawah dan hutan, dan tentu sesekali anak-anak Ciseel, berenang dengan telanjang di kali yang airnya masih terasa segar.
Diam-diam Ubai melakukan pengamatan terhadap kehidupan masyarakat Ciseel, yang waktu itu masih menggunakan lampu minyak tanah untuk penerangan, pengamatan itu menghasilkan ide untuk membuat taman baca untuk anak-anak, taman baca yang kemudian menumbuhkan silaturahmi yang lebih bermakna, bukan sekedar dirinya menumpang tinggal di kampung tersebut, bukan hanya sekedar menjadi guru di ruang kelas. Barangkali, walaupun mungkin terkesan membanding-bandingkan seperti Multatuli, yang bukan sekedar menjalankan tugas menjadi Asisten Residen Lebak.
“Saya harus berbuat, sesuatu,” kata Ubai, ketika mengenang sejarah pendirian taman baca Multatuli. Berbuat sesuatu untuk masyarakat Ciseel.
Taman baca dinamakan Multatuli, karena secara historis menurut Ubai, Mutatuli pernah menjadi Asisten Residen di Lebak, diangkat 21 Januari 1856. Selain itu aktivitas pertama dan utama di taman baca adalah pembacaan novel Max Havelaar. Multatuli, merupakan nama samaran dari Eduard Douwes Deker. Nama Multatuli diambil dari bahasa Latin yang berarti “Aku sudah menderita cukup banyak” atau “Aku sudah banyak menderita”. Novel Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda menghentak, penuh pembelaan terhadap masyarakat yang mengalami penindasan. Bagi masyarakat Lebak sekarang, Multatuli, diabadikan sebagai nama jalan, apotik dan juga sekolah. Barangkali, banyak orang yang mengenal Multatuli, tapi belum menyentuh bacaan Max Havelaar.
Rencana mendirikan taman baca Multatuli pun perlahan mulai diwujudkan. Sepuluh November 2009, ketika orang-orang merayakan hari Pahlawan, Ubai, membawa kotak plastik yang berisi sejumlah buku dan majalah untuk anak-anak Ciseel, dengan menggunakan sepeda motornya, dia seperti tidak sabar untuk segera datang. Buku sebagai oleh-oleh untuk kampung Ciseel, berupa koleksi Ubai, ditambah hasil pembelian buku yang baru dibeli dari kantong pribadi. Sebelumnya, Ubai meminta Pak RT Sarip membuatkan rak kayu untuk tempat penyimpanan buku.
Saat itu, di kampung Ciseel, listrik belum masuk, televisi dan radio masih menjadi sesuatu yang asing. Sementara itu, untuk masuk ke Kampung Ciseel, sekitar satu jam lebih dari Ibu Kota Lebak, Rangkasbitung, kendaraan roda empat tidak bisa masuk, jadi harus menggunakan kendaraan roda dua. Sekitar 45 menit dari Kampung Cangkeuteuk, tempat yang masih bisa dikunjungi oleh kendaraan roda empat.
“Salah satu hiburan untuk mereka, ya, buku,” katanya, menjawab pertanyaan saya melalui media sosial, terkait dengan alasan dirinya menyodorkan bahan bacaan untuk warga Ciseel.
Pada tiga bulan pertama itu, selain rajin membawa buku. Ubai pun mendatangi Ketua Rukun Tetangga, Ketua Rukun Warga, guru ngaji, dan orang-orang yang dianggap sebagai pemimpin dan tokoh kampung. Ubai mengutarakan niatnya, untuk mendirikan Taman Baca.
Gagasan itu disambut oleh warga dengan baik, mereka diantaranya berkomentar, dengan adanya taman baca sebagai aktivitas yang bisa menghilangkan kekewatiran, sebab banyak anak yang bermain ke tengah hutan dan pinggir sungai, takut dipatuk ular, terutama ular tanah. Ular tanah, biasaya bersembunyi di semak-semak, di Banten memang masih menjadi sesuatu yang menakutkan. Bisa ular tanah, mematikan bila tidak cepat ditolong. Selain alasan tersebut, tentu saja secara formal rencana Ubai tersebut, dianggap bisa membantu membuat anak-anak kampung mengenal bahan bacaan, sehingga anak-anak mudah menangkap materi yang diajarkan di sekolah.
Pada mulanya, kegiatan utama taman baca Multatuli, reading group Max Havelar, dilakukan pada sore hari setiap hari Selasa. Menurut Ubai, reading group, adalah sebuah aktivitas membaca bersama. Reading group, diyakini ampuh mengusir kejenuhan anak-anak dari aktivitas membaca yang dilakukan sendiri-sendiri.
13 Maret, untuk pertama kalinya reading group, dilaksanakan dengan tujuh belas peserta. Pada waktu itu tidak ada satu pun yang menggunakan istilah reading group. Istilah itu, pada mulanya belum melekat di telinga anak-anak, juga belum disampaikan. Membaca buku pun dilakukan secara bertahap, pelan-pelan, dijelaskan supaya tidak terlalu berat untuk anak-anak yang sedang belajar membaca dan mencerna makna. Tidak heran, bila pada tahun pertama, buku Max Havelaar tamat 37 pertemuan selama sebelas bulan. Tahun kedua, selama dua tahun lima bulan. Pembacaan pertama Maret 2010 sampai Februari 2011, kemudian diulang lagi untuk pembacaan kedua, Mei 2011 sampai Agustus 2013.
Reading group, membuat mereka kangen bertemu tiap minggu, untuk membaca bersama,” kata Ubai.
Semangat anak-anak Ciseel untuk membaca sepertinya dapat terlihat dari beberapa kesan yang ditulis oleh mereka, seperti saya baca dari tulisan Ubai di laman jejaring sosial miliknya. Rohanah menulis, “Rajin-rajin belajar membaca!” “Teman-teman, ayo, kita membaca buku cerita,” tulis Anisah. Sementara Siti Nurhalimah menulis, “Baca Multatuli, yuk!” Pendi mengingatkan temannya agar jangan bercanda, “teman-teman jangan bercanda, dong!” Lain lagi Pepen dan Coni, mereka mengingatkan agar menjaga buku. Siti Alfiah, Pipih, dan Sumi hampir senada mengajak untuk membaca, “Teman-teman, jangan lupa membaca di Taman Baca Multatuli!”
Tampaknya, kebiasaan membaca kalau diperkenalkan dengan baik, akan direspon baik pula oleh anak-anak, tidak peduli mereka tinggal di kota atau di kampung, orang kaya atau biasa-biasa saja, dan buku yang dianggap berat pun oleh sebagian kalangan ternyata bisa juga dinikmati oleh anak-anak. Anak-anak itu membaca buku bukan hanya di taman baca Multatuli, mereka pun ada yang membawa buku ke rumah. Tidak jarang, anak-anak yang bersekolah dimana Ubai mengajar, membawa buku dari taman baca Mutatuli ke sekolah. Taman baca pun dikenal di sekolah. Ubai pun meyampaikannya ke pihak sekolah, tentang aktivitasnya mendirikan taman baca Multatuli. Pihak sekolah pun mendukung upaya yang dilakukan Ubai.
“Saya juga membawa murid-murid saya selepas sekolah, ke taman baca Multatuli,” katanya.
Selain membaca, anak-anak Ciseel, juga diajari belajar Bahasa Inggris, mereka yang belajar itu, mulai berani memperkenalkan diri dengan menggunakan Bahasa Internasional, walaupun baru sapatah dua patah kata. Selain itu, mereka juga belajar drama. Sementara itu, kegandrungan anak-anak Ciseel dalam membaca, sepertinya sudah sangat kuat, terbukti ketika listrik sejak empat tahun terakhir, masuk ke Kampung Ciseel, yang diiringi oleh televisi sebagai media hiburan, kebiasaan membaca anak-anak, masih tinggi tidak tergantikan oleh kebiasaan menonton televisi.
Selain dibekali kebiasaan membaca, taman baca Multatuli, juga menumbuhkan kebiasaan menulis, rupa-rupa yang mereka tulis, menulis tentang kesan mereka terhadap reading group, menuliskan persoalan-persoalan yang tengah mereka atau orang-orang disekitar mereka hadapi, termasuk salah satunya menuliskan pertengkaran orang tua mereka. Menulis menjadi salah satu obat untuk mengurangi dan barangkali melepaskan ketegangan dan persoalan hidup yang anak-anak hadapi.
Memperingati kelahiran novel Max Havelaar, dirayakan dengan tajuk Ciseel day, dengan rupa-rupa kegiatan; pementasan drama, menulis catatan perjalanan, menonton film, menyusuri jejak Multatuli, diskusi dan bedah karya Multatuli, dan agenda lain yang menyenangkan. Sejumlah kalangan berdatangan; mahasiswa, sastrawan, akademisi, atau pun yang tidak masuk ke dalam kategori diatas. Ciseel day sekarang menjadi agenda tahunan yang banyak dinanti.   
Saya menyaksikan taman baca Mutatuli melalui televisi, membaca liputannya di media massa, taman baca Multatuli juga dijadikan penelitian untuk tesis, dan rupa-rupa kesan dan pesan tentang taman baca Multatuli di jejaring sosial. Ciseel, sebagian orang-orang pun mengenal sebagai kampung dimana Multatuli hadir kembali disana. Taman baca Multatuli, seperti memberi makna tersendiri bagi kehidupan masyarakat Ciseel. Kampung Ciseel, boleh terisolir karena persoalan geografis dengan akses jalan tanah, dipinggir kanan dan kiri jurang, tapi sekarang kampung itu banyak dikenal dan dikenang oleh banyak orang.
Sejak 23 Oktober 2013, taman baca Multatuli yang sebelumnya mengontrak di rumah Pak Sarip, kini menempati tanah seluas sembilan puluh meter persegi dengan ruang baca seluas tujuh kali empat meter, dilengkapi dengan kamar tidur, dapur dan kamar mandi. tempat beraktivitas milik sendiri. Taman Baca Multatuli, dibangun atas bantuan dari Tanoto Foundation melalui kick Andi Foundation, dan jangan lupa juga gotong royong warga Ciseel, membantu mendirikan Taman Baca Multatuli.
Respon masyarakat yang sangat besar, diyakini oleh Ubai sebagai vitamin untuk terus merawat Taman Baca Mutatuli, juga termasuk kemenangan-kemenangan kecil seperti semakin banyaknya orang yang memberi perhatian. “Itu saya anggap sebagai penawar lelah melewati jalan terjal, menuju Ciseel,” katanya.
Sebagai guru, Ubai mempunyai kepercayaan bahwa membaca adalah jantung pendidikan. Kebiasaan membaca juga sudah semestinya menjadi aktivitas sehari-hari di sekolah. “Perpustakaan sekolah, sudah selayaknya mengoptimalkan perpustakaan. Tinggal bagaimana pustakawan di sekolah menggunakannya untuk meningkatkan minat baca,” katanya, ketika saya bertanya, bagaimana kebiasaan membaca dikalangan anak di sekolah bisa meningkat.
Saya membayangkan betapa menariknya bila ada begitu banyak taman baca semacam taman baca Multatuli ditengah-tengah masyarakat, dan saya pun mengajukan pertanyaan terkait dengan itu, pada laki-laki yang sering menulis dengan sangat kritis itu -kalau tidak percaya betapa kritisnya Ubai dalam menulis, silahkah baca tulisan-tulisannya, salah satunya tulisannya menimbang buku yang ditulis oleh seorang aktivis 98-an, yang kini menjadi anggota DPR RI-, mudah-mudahan tulisan saya ini, walaupun terkesan mengulang-ngulang tidak dianggap sampah olehnya. Pertanyan saya, apa sarannya agar taman baca yang didirikan ditengah-tengah masyarakat, bisa tumbuh dan berkembang?
Sekiranya, boleh memberi usul, jawab Ubai, kegiatan di taman baca, harus ada kegiatan membaca yang terus menerus, melalui pembimbingan, serupa reading group, sebab bisa saja anak-anak mengalami kejenuhan dengan bacaan dan permainan serta aktivitas di Taman Baca. “Reading group membuat mereka kangen bertemu tiap minggu. Membaca bersama,” katanya.

Biodata
Nama                         : Ubaidilah Muchtar
Tanggal Lahir           : 4 Juli 1980
Istri                             : Linda Nurlinda
Pekerjaan                 : Guru SMP 3 Sobang
Aktivitas Sosial        : Pemandu Reading Group Max Havelaar, Taman Baca Mutatuli
Pendidikan               : UPI Bandung (1999-2004).
Penghargaan           : Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar