Menghadirkan Multatuli di Ciseel
Penulis: Ginanjar Hambali
Pada mulanya, barangkali hanya sebuah
keisengan belaka, mendirikan taman baca Multatuli untuk mengisi waktu luang
disela aktivitas sehari-hari sebagai guru. Taman baca itu, kemudian berkembang,
tumbuh dan dikenal, sebagai tempat bagi anak-anak; membaca, menulis, main
drama, menonton film, belajar Bahasa Inggris, dan banyak kegiatan lain. Seperti
saya kutip dari laman situs taman baca Mutatuli, berharap para anggota taman baca Multatuli
yang semuanya masih murid SD, SMP, dan SMA, bisa mencintai kegiatan belajar
serta gemar membaca maupun menulis. Juga bisa dan mampu menyerap semangat
kejujuran seperti yang digambarkan Multatuli dalam novel Max Havelaar.
Taman baca itu terletak di Kampung
Ciseel, Desa Sobang, Kecamatan Lebak, sebuah tempat yang bersembunyi di Bawah
Kaki Gunung Halimun Salak, Warga kampung, sering memangil Guru yang mendirikan
taman baca Multatuli itu dengan sebutan Pak Guru Ubai, di laman jejaring sosial
miliknya orang-orang sering memanggilnya dengan sebutan Kang Ubai, nama
lengkapnya Ubaidilah Muchtar.
Saya mengenalnya, waktu dia menjadi
mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, angkatan tahun 1999, selain
kuliah, hari-harinya di kampus diisi oleh kegiatan diskusi, sesekali demonstrasi,
beberapa kali membaca puisi. Lulus dari UPI Bandung tahun 2004, menikah dengan
perempuan yang dulu dikenalnya di Kampus, kemudian mereka memutuskan tinggal di
Depok, sampai kemudian pada tahun 2009, Ubai diangkat menjadi guru Pegawai
Negeri Sipil (PNS) di Lebak, tepatnya 1 Februari.
Ubai, ditempatkan di SMPN 3 Sobang.
Pada waktu datang ke lokasi tempat dia ditugaskan, mengaku sempat ragu. Letak
SMPN 3 Sobang berada di pelosok, jarak antara tempat tinggal dengan sekolah
sekitar 120 kilometer. Jalannya berliku, dan belum beraspal. Jadi tidak bisa
pulang pergi tiap hari. Beruntung, Istrinya yang bernama Linda Nurlinda, bukan
hanya rajin mengirim pesan pendek melalui sms,
menelponnya sekedar untuk mengingatkan makan walaupun dengan bantuan sinyal
handphone yang pas-pasan, juga terus mendukung dan menyemangatinya untuk tetap
semangat menjalani hari-hari sebagai guru. Tentu juga sesekali berkunjung
menengok suaminya yang menjalankan tugas di pelosok.
Enam bulan pertama, Ubai, tinggal di
Sekolah, tidur di ruang guru. Pada Bulan Agustus 2009, Ubai ikut mengontrak
rumah di Kampung Ciseel, Desa Sobang, Kecamatan Sobang, Lebak. “Saya ikut,
empat teman yang terlebih dahulu mengontrak rumah Pak Sarip,” kata Ubai. Empat
temannya, itu sama-sama mengajar di SMP 3 Sobang.
Sarip adalah warga Ciseel, yang juga
menjabat sebagai Ketua RT di kampung tersebut, sehingga sering dipanggil Pak RT
Sarip. Seperti kampung-kampung yang ada di pelosok Banten, selepas sekolah;
anak-anak sebagian membantu orangtuanya, mencari kayu bakar, mengembalakan
kambing dan ada juga yang mengembalakan kerbau, bermain di sawah dan hutan, dan
tentu sesekali anak-anak Ciseel, berenang dengan telanjang di kali yang airnya
masih terasa segar.
Diam-diam Ubai melakukan pengamatan terhadap
kehidupan masyarakat Ciseel, yang waktu itu masih menggunakan lampu minyak
tanah untuk penerangan, pengamatan itu menghasilkan ide untuk membuat taman baca
untuk anak-anak, taman baca yang kemudian menumbuhkan silaturahmi yang lebih
bermakna, bukan sekedar dirinya menumpang tinggal di kampung tersebut, bukan
hanya sekedar menjadi guru di ruang kelas. Barangkali, walaupun mungkin
terkesan membanding-bandingkan seperti Multatuli, yang bukan sekedar
menjalankan tugas menjadi Asisten Residen Lebak.
“Saya harus berbuat, sesuatu,” kata
Ubai, ketika mengenang sejarah pendirian taman baca Multatuli. Berbuat sesuatu
untuk masyarakat Ciseel.
Taman baca dinamakan Multatuli,
karena secara historis menurut Ubai, Mutatuli pernah menjadi Asisten Residen di
Lebak, diangkat 21 Januari 1856. Selain itu aktivitas pertama dan utama di
taman baca adalah pembacaan novel Max Havelaar. Multatuli, merupakan nama
samaran dari Eduard Douwes Deker. Nama Multatuli diambil dari bahasa Latin yang
berarti “Aku sudah menderita cukup banyak” atau “Aku sudah banyak menderita”. Novel
Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda menghentak, penuh
pembelaan terhadap masyarakat yang mengalami penindasan. Bagi masyarakat Lebak
sekarang, Multatuli, diabadikan sebagai nama jalan, apotik dan juga sekolah.
Barangkali, banyak orang yang mengenal Multatuli, tapi belum menyentuh bacaan
Max Havelaar.
Rencana mendirikan taman baca Multatuli
pun perlahan mulai diwujudkan. Sepuluh November 2009, ketika orang-orang
merayakan hari Pahlawan, Ubai, membawa kotak plastik yang berisi sejumlah buku
dan majalah untuk anak-anak Ciseel, dengan menggunakan sepeda motornya, dia
seperti tidak sabar untuk segera datang. Buku sebagai oleh-oleh untuk kampung
Ciseel, berupa koleksi Ubai, ditambah hasil pembelian buku yang baru dibeli dari
kantong pribadi. Sebelumnya, Ubai meminta Pak RT Sarip membuatkan rak kayu
untuk tempat penyimpanan buku.
Saat itu, di kampung Ciseel, listrik
belum masuk, televisi dan radio masih menjadi sesuatu yang asing. Sementara
itu, untuk masuk ke Kampung Ciseel, sekitar satu jam lebih dari Ibu Kota Lebak,
Rangkasbitung, kendaraan roda empat tidak bisa masuk, jadi harus menggunakan
kendaraan roda dua. Sekitar 45 menit dari Kampung Cangkeuteuk, tempat yang
masih bisa dikunjungi oleh kendaraan roda empat.
“Salah satu hiburan untuk mereka, ya,
buku,” katanya, menjawab pertanyaan saya melalui media sosial, terkait dengan
alasan dirinya menyodorkan bahan bacaan untuk warga Ciseel.
Pada tiga bulan pertama itu, selain
rajin membawa buku. Ubai pun mendatangi Ketua Rukun Tetangga, Ketua Rukun
Warga, guru ngaji, dan orang-orang yang dianggap sebagai pemimpin dan tokoh
kampung. Ubai mengutarakan niatnya, untuk mendirikan Taman Baca.
Gagasan itu disambut oleh warga
dengan baik, mereka diantaranya berkomentar, dengan adanya taman baca sebagai
aktivitas yang bisa menghilangkan kekewatiran, sebab banyak anak yang bermain
ke tengah hutan dan pinggir sungai, takut dipatuk ular, terutama ular tanah.
Ular tanah, biasaya bersembunyi di semak-semak, di Banten memang masih menjadi
sesuatu yang menakutkan. Bisa ular tanah, mematikan bila tidak cepat ditolong.
Selain alasan tersebut, tentu saja secara formal rencana Ubai tersebut,
dianggap bisa membantu membuat anak-anak kampung mengenal bahan bacaan,
sehingga anak-anak mudah menangkap materi yang diajarkan di sekolah.
Pada mulanya, kegiatan utama taman baca
Multatuli, reading group Max Havelar,
dilakukan pada sore hari setiap hari Selasa. Menurut Ubai, reading group, adalah sebuah aktivitas membaca bersama. Reading group, diyakini ampuh mengusir
kejenuhan anak-anak dari aktivitas membaca yang dilakukan sendiri-sendiri.
13 Maret, untuk pertama kalinya reading group, dilaksanakan dengan tujuh
belas peserta. Pada waktu itu tidak ada satu pun yang menggunakan istilah reading group. Istilah itu, pada mulanya
belum melekat di telinga anak-anak, juga belum disampaikan. Membaca buku pun
dilakukan secara bertahap, pelan-pelan, dijelaskan supaya tidak terlalu berat
untuk anak-anak yang sedang belajar membaca dan mencerna makna. Tidak heran,
bila pada tahun pertama, buku Max Havelaar tamat 37 pertemuan selama sebelas
bulan. Tahun kedua, selama dua tahun lima bulan. Pembacaan pertama Maret 2010
sampai Februari 2011, kemudian diulang lagi untuk pembacaan kedua, Mei 2011
sampai Agustus 2013.
“Reading
group, membuat mereka kangen bertemu tiap minggu, untuk membaca bersama,”
kata Ubai.
Semangat anak-anak Ciseel untuk
membaca sepertinya dapat terlihat dari beberapa kesan yang ditulis oleh mereka,
seperti saya baca dari tulisan Ubai di laman jejaring sosial miliknya. Rohanah
menulis, “Rajin-rajin belajar membaca!” “Teman-teman, ayo, kita membaca buku
cerita,” tulis Anisah. Sementara Siti Nurhalimah menulis, “Baca Multatuli,
yuk!” Pendi mengingatkan temannya agar jangan bercanda, “teman-teman jangan
bercanda, dong!” Lain lagi Pepen dan Coni, mereka mengingatkan agar menjaga
buku. Siti Alfiah, Pipih, dan Sumi hampir senada mengajak untuk membaca,
“Teman-teman, jangan lupa membaca di Taman Baca Multatuli!”
Tampaknya, kebiasaan membaca kalau
diperkenalkan dengan baik, akan direspon baik pula oleh anak-anak, tidak peduli
mereka tinggal di kota atau di kampung, orang kaya atau biasa-biasa saja, dan
buku yang dianggap berat pun oleh sebagian kalangan ternyata bisa juga
dinikmati oleh anak-anak. Anak-anak itu membaca buku bukan hanya di taman baca
Multatuli, mereka pun ada yang membawa buku ke rumah. Tidak jarang, anak-anak
yang bersekolah dimana Ubai mengajar, membawa buku dari taman baca Mutatuli ke
sekolah. Taman baca pun dikenal di sekolah. Ubai pun meyampaikannya ke pihak
sekolah, tentang aktivitasnya mendirikan taman baca Multatuli. Pihak sekolah
pun mendukung upaya yang dilakukan Ubai.
“Saya juga membawa murid-murid saya
selepas sekolah, ke taman baca Multatuli,” katanya.
Selain membaca, anak-anak Ciseel,
juga diajari belajar Bahasa Inggris, mereka yang belajar itu, mulai berani
memperkenalkan diri dengan menggunakan Bahasa Internasional, walaupun baru
sapatah dua patah kata. Selain itu, mereka juga belajar drama. Sementara itu, kegandrungan
anak-anak Ciseel dalam membaca, sepertinya sudah sangat kuat, terbukti ketika
listrik sejak empat tahun terakhir, masuk ke Kampung Ciseel, yang diiringi oleh
televisi sebagai media hiburan, kebiasaan membaca anak-anak, masih tinggi tidak
tergantikan oleh kebiasaan menonton televisi.
Selain dibekali kebiasaan membaca, taman
baca Multatuli, juga menumbuhkan kebiasaan menulis, rupa-rupa yang mereka
tulis, menulis tentang kesan mereka terhadap reading group, menuliskan persoalan-persoalan yang tengah mereka
atau orang-orang disekitar mereka hadapi, termasuk salah satunya menuliskan pertengkaran
orang tua mereka. Menulis menjadi salah satu obat untuk mengurangi dan
barangkali melepaskan ketegangan dan persoalan hidup yang anak-anak hadapi.
Memperingati kelahiran novel Max
Havelaar, dirayakan dengan tajuk Ciseel
day, dengan rupa-rupa kegiatan; pementasan drama, menulis catatan
perjalanan, menonton film, menyusuri jejak Multatuli, diskusi dan bedah karya
Multatuli, dan agenda lain yang menyenangkan. Sejumlah kalangan berdatangan;
mahasiswa, sastrawan, akademisi, atau pun yang tidak masuk ke dalam kategori
diatas. Ciseel day sekarang menjadi
agenda tahunan yang banyak dinanti.
Saya menyaksikan taman baca Mutatuli
melalui televisi, membaca liputannya di media massa, taman baca Multatuli juga
dijadikan penelitian untuk tesis, dan rupa-rupa kesan dan pesan tentang taman baca
Multatuli di jejaring sosial. Ciseel, sebagian orang-orang pun mengenal sebagai
kampung dimana Multatuli hadir kembali disana. Taman baca Multatuli, seperti
memberi makna tersendiri bagi kehidupan masyarakat Ciseel. Kampung Ciseel,
boleh terisolir karena persoalan geografis dengan akses jalan tanah, dipinggir
kanan dan kiri jurang, tapi sekarang kampung itu banyak dikenal dan dikenang
oleh banyak orang.
Sejak 23 Oktober 2013, taman baca
Multatuli yang sebelumnya mengontrak di rumah Pak Sarip, kini menempati tanah
seluas sembilan puluh meter persegi dengan ruang baca seluas tujuh kali empat
meter, dilengkapi dengan kamar tidur, dapur dan kamar mandi. tempat beraktivitas
milik sendiri. Taman Baca Multatuli, dibangun atas bantuan dari Tanoto Foundation melalui kick Andi Foundation, dan jangan lupa
juga gotong royong warga Ciseel, membantu mendirikan Taman Baca Multatuli.
Respon masyarakat yang sangat besar,
diyakini oleh Ubai sebagai vitamin untuk terus merawat Taman Baca Mutatuli,
juga termasuk kemenangan-kemenangan kecil seperti semakin banyaknya orang yang
memberi perhatian. “Itu saya anggap sebagai penawar lelah melewati jalan
terjal, menuju Ciseel,” katanya.
Sebagai guru, Ubai mempunyai
kepercayaan bahwa membaca adalah jantung pendidikan. Kebiasaan membaca juga
sudah semestinya menjadi aktivitas sehari-hari di sekolah. “Perpustakaan
sekolah, sudah selayaknya mengoptimalkan perpustakaan. Tinggal bagaimana
pustakawan di sekolah menggunakannya untuk meningkatkan minat baca,” katanya,
ketika saya bertanya, bagaimana kebiasaan membaca dikalangan anak di sekolah
bisa meningkat.
Saya membayangkan betapa menariknya
bila ada begitu banyak taman baca semacam taman baca Multatuli ditengah-tengah
masyarakat, dan saya pun mengajukan pertanyaan terkait dengan itu, pada
laki-laki yang sering menulis dengan sangat kritis itu -kalau tidak percaya
betapa kritisnya Ubai dalam menulis, silahkah baca tulisan-tulisannya, salah
satunya tulisannya menimbang buku yang ditulis oleh seorang aktivis 98-an, yang
kini menjadi anggota DPR RI-, mudah-mudahan tulisan saya ini, walaupun terkesan
mengulang-ngulang tidak dianggap sampah olehnya. Pertanyan saya, apa sarannya
agar taman baca yang didirikan ditengah-tengah masyarakat, bisa tumbuh dan
berkembang?
Sekiranya, boleh memberi usul, jawab
Ubai, kegiatan di taman baca, harus ada kegiatan membaca yang terus menerus,
melalui pembimbingan, serupa reading
group, sebab bisa saja anak-anak mengalami kejenuhan dengan bacaan dan
permainan serta aktivitas di Taman Baca. “Reading
group membuat mereka kangen bertemu tiap minggu. Membaca bersama,” katanya.
Biodata
Nama :
Ubaidilah Muchtar
Tanggal Lahir : 4 Juli 1980
Istri :
Linda Nurlinda
Pekerjaan : Guru SMP 3 Sobang
Aktivitas Sosial : Pemandu Reading Group Max Havelaar, Taman Baca Mutatuli
Pendidikan : UPI Bandung (1999-2004).
Penghargaan : Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar