Minggu, 06 September 2015

Robohnya Lumbung Padi Kami

Robohnya Lumbung Padi Kami
oleh : Ginanjar Hambali
 
Seingat saya, sebelum tahun 90-an, leuit atau lumbung padi bukan sesuatu yang asing di kampung kami. Hampir semua memilikinya. Leuit bisa juga sebagai pertanda kemakmuran, orang yang dianggap kaya, bukan hanya memiliki leuit lebih besar, juga lebih dari satu. Biasanya leuit dibangun dibelakang rumah. Bentuknya, seperti rumah panggung kecil, berdinding bilik beratap daun ijuk, pondasi terbuat dari batu. Sekarang leuit, kabarnya hanya tersisa di komunitas adat.
Saat itu, hampir semua jadi petani, termasuk guru; pulang atau libur sekolah, turun ke sawah. Pedagang, disela-sela kesibukannya juga menggarap sawah, kalau terlampau sibuk urusan niaga, menyuruh orang lain membantunya. Buruh tani juga punya sawah. Jadi petani, lebih dari sekedar pekerjaan, namun bagian kehidupan masyarakat yang tak terpisahkan. Menjodohkan anak pun bisa bermula dari sawah. Kami, ya, waktu itu masih anak-anak, diajak juga ke sawah, membantu orangtua.
Ke sawah, membawa bekal nasi, dibungkus daun pisang. Lauknya, kalau tidak ikan asin. Mencari ikan sawah. Lalabnya, mentimun atau kacang panjang, biasa ditanam di pematang sawah. Ditanam juga umbi-umbian, seperti singkong dan ubi jalar. Kalau perut belum kenyang, singkong rebus atau bakar dihidangkan. Air minumnya, air sawah. Sebelum pulang, memetik kangkung dan genjer. Setelah dipanen, padi disimpan dalam leuit. Sebagai persedian. Sebagian tentu dijual, tapi yang dijual hanya sebagian kecil saja.
Kemudian, kampanye peningkatan hasil panen sering dilakukan oleh pemerintah, penggunaan pupuk kimia semakin menjadi. Ikan sawah susah didapat. Petani membawa air minum dari rumah. Sementara itu, jalan depan rumah yang sebelumnya berbatu, diaspal. Listrik masuk, alat-alat eletronik semakin menyerbu, televisi bukan lagi sesuatu yang asing. Ditengah kemajuan-kemajuan, kini jamannya, sekolah. Anak-anak tidak hanya bersekolah sampai tingkat dasar, sebagian petani rela melepaskan satu dua kotak sawah demi biaya sekolah. Barangkali, karena bersekolah, anak-anak jadi jarang turun ke sawah.
Usia terus bertambah, satu persatu orangtua kemudian menemukan nasibnya; meninggal. Tanah sebagai harta warisan kemudian dibagi-bagi, merujuk hukum waris. Kepemilikan lahan berkurang, walaupun ada satu dua orang yang semakin bertambah karena berhasil menjadi juragan tani, dengan membeli sedikit demi sedikit lahan milik petani yang lain. Mereka itu biasanya; ulet, tekun, punya lahan luas, juga pekerjaan lain semisal pedagang atau tengkulak padi.
Pupuk semakin mahal. Irigasi begitu-begitu saja, sebagian hancur. Sebagian besar masyarakat mulai mengeluhkan susahnya menjadi petani. Biaya modal dan pendapatan hampir sama saja. Terjadi pula perubahan, hasil panen, biasanya langsung dijual ke tengkulak. Padi dijual karena petani harus segera mengganti dan mempersiapkan ongkos biaya tanam. Sebab tidak lagi dimanfaatkan, leuit perlahan keropos, sebagian roboh atau dirobohkan.
Kemudian, generasi selanjutnya lebih senang ke kota mencari pekerjaan. Ironisnya, ada juga petani yang menjual tanah untuk bekal bekerja anaknya di kota. Petani, hanyalah generasi tua yang masih tersisa, atau anak-anak muda yang merasa gagal, pulang kampung dari kota karena tidak mendapatkan pekerjaan. Anak-anak yang dulunya disekolahkan, malu menjadi petani, begitu pun orangtua malu kalau anaknya menjadi petani. Termasuk, juragan tani juga tak ingin anaknya jadi petani.
Kampung yang dulunya banyak leuit, kemudian heboh soal tidak terjangkaunya harga beras, mereka bisa saja melakukan demonstrasi karena beras raskin lambat turun. Saya bermimpi, leuit atau lumbung padi barangkali sekarang disebutnya sebagai gudang, kembali hadir sebagai pertahanan pangan masyarakat. Pemerintah, bukan hanya membangun infrastuktur pertanian, juga membangun mental, terutama generasi muda untuk jadi petani. Turun kembali ke sawah. Mengolah sawah dengan lebih baik, dengan semangat baru. Membuat sawah yang bisa sebagai tempat ikan-ikan berenang dan beranak pinak. Sayur-sayuran serta umbi-umbian tumbuh. Sekolah, tentu harus ikut juga bertanggungjawab, mengembalikan akar kehidupan masyarakat, jadi petani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar